Aku suka tinggal di sini. Sayangnya, ini bukan rumahku, bukan rumah kami.
Mari, kita sebut ia Rumah Taman. Baru kurang lebih satu minggu kami tempati, namun sudah cukup membuatku merasa kerasan. Ya, kami sudah say good bye sama Rumah Puspa, meninggalkan gerung mobil dan motor macam di sirkuit setiap pagi dan malam dari tetangga duda depan rumah yang sedang puber kedua dan enggak punya etika. Lingkungan di Rumah Puspa sudah tidak kondusif untuk dijadikan tempat tinggal, apalagi saat sedang punya anak umur sepuluh bulan. Kami butuh pindah. Minggu lalu, cita-cita selama setahun terakhir ini akhirnya kesampaian. Meskipun harus menyewa, yang penting kami pindah. Move on. Kami akan memulai segalanya lagi dengan cita rasa yang baru, dari sini...
Aku bisa melihat langit dengan lebih jelas dan luas. Setiap pagi, setiap malam, burung-burung walet beterbangan, dan suara kodok nyaring masuk ke telinga. Tak ada tetangga yang haus eksistensi di depan rumah kami, kecuali tembok yang membatasi jalan dengan sungai kecil dan pepohonan yang cukup rimbun. Aku bisa bernapas lagi di pagi hari, sambil duduk menyilakan kaki, dan menghadap langsung pohon kelapa di depan sana dengan aroma alam yang begitu dekat. Baru tadi pagi aku sadar ketika melakukan meditasi kecil ini: aku sudah terlalu lama mati, aku seperti merasai kembali hidup, dan aku ingin menulis lagi. Anakku bermain-main di sekitarku, ngerondang ke sana ke mari dengan gerakan-semangat-pada-hidup yang kerap ditunjukkannya. Aku sendiri kadang merasa malu pada anakku yang sangat bersemangat pada hidup itu, sementara ibunya ini kadang mudah sekali kecil hati dan putus asa.
Pada meditasi kecilku pagi tadi, aku berpikir: mungkin kami agak sedikit aneh kalau tidak mau disebut gila, jalur hidup yang kami tempuh agak sedikit berbeda dari kebanyakan manusia, tapi saat ini, aku sedang punya dua tahun yang sangat berharga, teramat sangat berharga, tak ternilai harganya. Dua tahun ini ingin sekali kupergunakan dengan sebaik-baiknya. Ingin kuambil sebanyak-banyaknya energi hidup dalam dua tahun ini sebagai bekal menyambut kembali rutinitas di depan yang setia menanti. Dua tahun ini, aku ingin mengurus anak sebaik-baiknya aku sebagai seorang ibu; aku ingin belajar sebaik-baiknya aku sebagai mahasiswa; aku ingin menjadi sebaik-baiknya pasangan bagi suamiku. Intinya, dua tahun ini adalah modalku, sebuah kapital waktu. Aku tidak akan menyia-nyiakan anugerah berupa waktu ini. Ya, WAKTU, sesuatu yang sangat krusial dalam hidup manusia yang hanya sekali di dunia.
Maka, dari sini, sesuatu akan bergulir kembali, menghidupkan lagi yang mungkin telah mati, merayakan kebaruan dalam hidup dengan kedewasaan dan kebijaksanaan yang lebih tinggi kadarnya. Kami move on. Akhirnya!
*Minta restu sama alam.
Mari, kita sebut ia Rumah Taman. Baru kurang lebih satu minggu kami tempati, namun sudah cukup membuatku merasa kerasan. Ya, kami sudah say good bye sama Rumah Puspa, meninggalkan gerung mobil dan motor macam di sirkuit setiap pagi dan malam dari tetangga duda depan rumah yang sedang puber kedua dan enggak punya etika. Lingkungan di Rumah Puspa sudah tidak kondusif untuk dijadikan tempat tinggal, apalagi saat sedang punya anak umur sepuluh bulan. Kami butuh pindah. Minggu lalu, cita-cita selama setahun terakhir ini akhirnya kesampaian. Meskipun harus menyewa, yang penting kami pindah. Move on. Kami akan memulai segalanya lagi dengan cita rasa yang baru, dari sini...
Aku bisa melihat langit dengan lebih jelas dan luas. Setiap pagi, setiap malam, burung-burung walet beterbangan, dan suara kodok nyaring masuk ke telinga. Tak ada tetangga yang haus eksistensi di depan rumah kami, kecuali tembok yang membatasi jalan dengan sungai kecil dan pepohonan yang cukup rimbun. Aku bisa bernapas lagi di pagi hari, sambil duduk menyilakan kaki, dan menghadap langsung pohon kelapa di depan sana dengan aroma alam yang begitu dekat. Baru tadi pagi aku sadar ketika melakukan meditasi kecil ini: aku sudah terlalu lama mati, aku seperti merasai kembali hidup, dan aku ingin menulis lagi. Anakku bermain-main di sekitarku, ngerondang ke sana ke mari dengan gerakan-semangat-pada-hidup yang kerap ditunjukkannya. Aku sendiri kadang merasa malu pada anakku yang sangat bersemangat pada hidup itu, sementara ibunya ini kadang mudah sekali kecil hati dan putus asa.
![]() |
| Cita rasa baru dalam hidup dari sini. |
Pada meditasi kecilku pagi tadi, aku berpikir: mungkin kami agak sedikit aneh kalau tidak mau disebut gila, jalur hidup yang kami tempuh agak sedikit berbeda dari kebanyakan manusia, tapi saat ini, aku sedang punya dua tahun yang sangat berharga, teramat sangat berharga, tak ternilai harganya. Dua tahun ini ingin sekali kupergunakan dengan sebaik-baiknya. Ingin kuambil sebanyak-banyaknya energi hidup dalam dua tahun ini sebagai bekal menyambut kembali rutinitas di depan yang setia menanti. Dua tahun ini, aku ingin mengurus anak sebaik-baiknya aku sebagai seorang ibu; aku ingin belajar sebaik-baiknya aku sebagai mahasiswa; aku ingin menjadi sebaik-baiknya pasangan bagi suamiku. Intinya, dua tahun ini adalah modalku, sebuah kapital waktu. Aku tidak akan menyia-nyiakan anugerah berupa waktu ini. Ya, WAKTU, sesuatu yang sangat krusial dalam hidup manusia yang hanya sekali di dunia.
Maka, dari sini, sesuatu akan bergulir kembali, menghidupkan lagi yang mungkin telah mati, merayakan kebaruan dalam hidup dengan kedewasaan dan kebijaksanaan yang lebih tinggi kadarnya. Kami move on. Akhirnya!
*Minta restu sama alam.


0 comments:
Posting Komentar