Mungkin Aku Harus Meninggalkan Kota Ini

Mungkin aku harus meninggalkan kota ini secepatnya dan memilih tempat tinggal yang lebih kekampungan, dari segi udara, lingkungan, suasana manusianya. Banyak orang yang semakin sadar untuk menyingkir, lalu memulai kehidupan baru di sebuah desa yang jauh dari hiruk pikuk. Mereka kemudian bercocok tanam, membangun ekosistem baru bagi diri mereka sendiri yang lebih natural, alami, dekat dengan semesta. Mereka memperlambat laju kehidupan ini. Mereka mengendalikan waktu. Mereka menguasai, setidaknya diri mereka sendiri yang selama tinggal di kota terbelenggu oleh sistem yang tercipta. Hidup di desa membawa mereka pada hakikat. Ingin rasanya aku menjadi salah satu di antara mereka...

Pertanyaannya, bagaimana aku bisa mewujudkannya? Untuk bisa ke situ, tampaknya aku butuh biaya yang tidak sedikit. Bagaimana aku mengumpulkan uang untuk bisa membiayai semua itu dengan cepat, ya? Ya, setidaknya selama dua sampai tiga tahun ke depan. Jangan lebih lama dari itu, syukur-syukur di usiaku yang ke-40, aku dan keluargaku telah memulai hidup baru seperti yang kuimpikan tadi. Aku benar-benar ingin kabur dari kota ini. Aku sudah tidak kerasan dengan suasananya, rutinitasku, keadaan lingkungan. Aku ingin menjalani kehidupan dari jauh sana, mungkin sebuah rumah di dalam hutan, di tengah sawah, di kaki gunung, di desa yang sejuk dan tak terjamah polusi. Aku ingin meninggalkan kota ini.

Jika suamiku punya penghasilan dari Youtube setiap bulan dimulai dari tahun depan, apakah dalam dua atau tiga tahun kemudian penghasilannya telah cukup untuk membiayai mimpi itu plus melunasi utangku ke bank sebelum resign sebagai PNS dari kantor? Hm, sebenarnya nothing is imposible, sih, ya, apalagi jika sudah ada campur tangan Tuhan di dalamnya. Jika Dia telah berkehendak, tidak ada yang tidak mungkin. Jadi, optmislah!

Aku tidak main-main dengan mimpiku ini. Banyak faktor yang membuatku semakin teguh dengan cita-citaku ini, salah satunya adalah persoalan lingkungan yang sehat. Di kota, sesungguhnya manusia itu semakin terimpit, sesak. Gini-gini aku sudah survei, based on pengalaman. Ketika jadi keluarga nomad bertahun-tahun kemarin, aku tahu bahwa sebenarnya tidak ada tempat yang benar-benar ingin aku tinggali di antara tempat-tempat yang kudatangi itu. Sebut saja, Depok, Bogor kota, daerah Pemda Bogor (kabupaten)--jangan sebut Bekasi atau Jakarta, itu, sih, kota-kota yang kalau bisa dihindari. Intinya, Jabodetabek sama sekali enggak masuk sama aku. 

Kupikir, awalnya Bogor kota aman dan aku punya nostalgia dengan kota itu semasa SMA, jadi punya keinginan tinggal di Kota Bogor itu cukup kuat. Namun, pada suatu waktu ketika hunting tempat tinggal di Kota Bogor saat jadi keluarga nomad kemarin itu, aku sungguh kecewa dengan kenyataan bahwa kota yang kukenal hampir dua puluh tahun lalu dengan yang saat itu kutemui telah berubah. Aku jadi membayangkan bagaimana perasaan pribumi Bogor yang bahkan tahu masa lalu kota ini dengan melihat perubahan yang ada pada wajah Bogor sekarang, hancur sekali pastinya. Kita semua kecewa dengan pembangunan kota. Sakitnya tuh, di sini. Ketika itu, suamiku diam-diam memahami perasaanku. Setelah berkeliling seharian di Kota Bogor, kami cuma terdiam. Besoknya kami mulai saling bicara: Bogor, kok, jadi gitu, ya, kayanya enggak dapat, deh.

Persoalan tempat tinggal memang masalah yang cukup kronis buatku, pelik dan berlarut-larut. Sejak kecil aku hidup di kota. Orang tuaku adalah penduduk urban yang datang dari kampung Sunda di ujung timur batas Jawa Barat. Kami pernah tinggal di Jakarta Timur, Bekasi Barat, hingga berakhir di Kabupaten Bogor, tepatnya di Kecataman Cibinong hingga aku sekarang, sedangkan orang tuaku kembali ke kampung setelah pensiun. Aku tetap di tempat ini karena selain juga menikah dengan orang sini (ibunya Ciampea Bogor, ayahnya Purworejo), aku bekerja di Jakarta. Kota terakhir yang kusebut itu sebenarnya momok buatku. Dari sejak lulus kuliah aku menghindari betul yang namanya kerja di Jakarta--melihat sehari-hari ibuku kerja Jakarta-Cibinong bukan rutinitas yang menarik minatku untuk dijalani. Tapi, takdir berkata lain.

Apakah aku menyesal? Sering sekali pada awalnya. Tapi, Tuhan ternyata pintar merayu. Diberikan-Nya aku peristiwa-peristiwa dan kejadian dalam hidup yang bikin aku jadi suka dengan jalan ini. Dibuat-Nya aku bersyukur, berterima kasih, dan sayang pada diriku sendiri. Itulah Dia, pintar sekali. Bukan cuma merayu, mungkin itulah juga cara Dia mencintai aku. Tapi, seiring waktu, aku tetap tak bisa memungkiri bahwa realitas yang harus kujalani itu begitu berat. Perasaan terjebak, terbelenggu, ingin keluar tapi tak mampu, selalu muncul dalam diriku. Nyatanya, bukan ini yang benar-benar kubutuhkan. Aku selalu kembali pada pemikiranku yang dahulu, tak pernah tidak. Itu seperti mimpi atau mungkin idealisme hidup yang kukubur rapat-rapat. Sementara, di sini, aku hanya beradaptasi meskipun ini bukanlah habitatku yang sesungguhnya.

Sekarang, aku hanya berpikir, bagaimana kami bisa meninggalkan kota ini? Bagaimana sebenarnya manusia bisa memenuhi kodratnya di tengah kompleksitas dunia? Apakah aku hanya sedang lelah? Mungkinkah sebenarnya di tempat inilah habitatku yang sesungguhnya: sebuah kota yang ingar bingar penuh dengan struggling? Ke mana aku harus pergi jika ini memang bukan tempatku?

Semua pertanyaan itu terus berkecamuk. Aku perlu menguraikannya karena beberapa hari ini aku dilanda perasaan aneh yang tidak nyaman. Pikiran-pikiran terus menghantuiku, perasaan tidak enak. Aku jarang merasakan damai, kurang menikmati diriku sendiri dengan segala rutinitasnya. Ada apa? Mungkin sudah saatnya untuk berpikir jauh ke depan dan mengingat kembali harapan-harapan hidupku dahulu. Dengan begini, aku mungkin bisa merekonstruksi rencana, jadwal, cita-cita. Mungkin...

Mungkin aku harus meninggalkan kota ini secepatnya. Tapi, waktu itu relatif, sih. Bagiku yang terpenting sekarang adalah kesadarannya dahulu. Kota ini telah banyak meracuniku dan aku harus menumbuhkan kesadaranku lagi yang selama ini terkubur rapat-rapat. Bergegaslah untuk selesaikan bagian ini. Ya, ini cuma bagian dalam hidupku khususnya yang harus aku lalui dari berderet bagian lainnya yang menunggu untuk aku jalani. Tetapkan fokus dan bekerja samalah dengan baik. Insyaallah, tidak ada yang tidak mungkin bagi Tuhan.

0 comments: