Dari Nona ke Nyonya, dari Januari ke Maret

Dari Nona ke Nyonya

Hari ini, aku resmi mengubah nama blog ini dan alamatnya dari sesuatu yang mengandung kata nona menjadi nyonya. Karena apa? Ya, tentu saja, karena si empunyanya, yaitu aku sudah bukan nona lagi, sudah menjadi nyonya sejak 11 tahun yang lalu. Makanya, kadang aku suka ingin sekali menulis di blog, tapi, kok, rasa ada yang kurang sreg di hati, mungkin akibat ketidaksinkronan antara judul blog dan situasi penulisnya saat ini. So, kugantilah nama blog ini biar bersinergi dengan statusku sekarang. Dengan begitu, kuharap aku semakin rajin blogging di usia paruh bayaku ini. Yeay...


Selamat datang, Dunia Cap Nyonya!


Aku mau rajin menulis lagi di sini. Bukan apa, aku butuh. Sedih banget karena belakangan ini merasa tidak punya rumah buat jiwaku. Aku enggak tahu harus ke mana untuk sekadar menuliskan perasaan dan kejadian hari-hari, padahal sejak kecil aku bestie betul dengan yang namanya buku harian. Blog ini juga kubangun 15 tahun lalu, yaitu 2010, salah satunya sebagai pengganti buku harianku. Blog itu kan diari digital. Kadang, kan, kalau menulis pakai tangan itu cepat capek, padahal banyak yang ingin ditulis. Jadi, solusinya adalah blog ini.


Selain nama yang berganti, aku juga mau mengganti label tulisanku dalam blog ini dengan kata kunci yang disesuaikan dengan tajuk subjek perpustakaan. Kulihat-lihat, ternyata enggak rapi banget, deh, pelabelan tulisanku di sini. Sebagai pustakawan kataloger yang suka bikin subjek buat koleksi perpustakaan, aku jadi terinspirasi untuk melakukannya pada tulisan-tulisanku ini. Dengan begitu, aku juga jadi lebih mudah untuk bisa menemukan tulisan-tulisanku terkait topik tertentu--karena juga telah sinkron dengan cara berpikirku yang telah terbentuk akibat sekian belas tahun menjadi pustakawan kataloger. Yuk, kita ubah pelan-pelan dan satu-satu label tulisanku.


Dari Januari ke Maret

Pada kesempatan ini, aku juga mau sedikit mereviu kehidupan profesiku. Ada beberapa kegiatan yang perlu aku highlight karena ini di luar rutinitas pekerjaan dari Januari hingga maret. Kita simak satu-satu.


Pertama. Aku ditugaskan mengajar klasifikasi bahan perpustakaan untuk para pustakawan di Kabupaten Bekasi pada 19 Februari lalu. Saat itu aku mengajar bersama seorang rekan di kantor yang mengajar katalogisasinya. Aku mengajar di sebuah hotel di Cikarang. Gile, jauh! Tapi, teknologi jalan tol memudahkan perjalanan, mendekatkan yang jauh, dan menguras saldo gopayku! Perjalanan PP Cikarang-Citeureup menghabiskan 500.000 plus plus plus belum dengan tarif tol. Tapi, Alhamdulillahnya bisa ketutup--dan masih banyak lebihan--dengan honor yang diterima, sih...


Kedua. Seminggu kemudian dari kegiatan pertama, sebagai penutup Februari dan pengawal memasuki bulan suci Ramadan, aku ditugaskan sebagai narasumber untuk kegiatan webinar di unit kerjaku yang pada seri pertama itu membahas pengolahan naskah kuno. Sebagai pakarnya (caelaaah..), kegiatan ini tentu sangat membutuhkan tanggung jawabku. Sayangnya, sudahlah dadakan, kegiatan yang menyita pikiran ini dilakukan menjelang puasa yang hawanya sudah membuat enggak karuan. Mendekati puasa, aku biasanya sudah kaos banget. Tubuh dan pikiran sudah banyak racunnya plus jiwa itu sebenarnya sudah pengen tenang damai tanpa banyak distraksi untuk menyambut puasa. Tapi, karena tugas, aku harus tetap profesional, ya. Alhamdulillah, webinar berjalan lancar. Pesertanya 500 lebih terdiri dari pustakawan di seluruh daerah di Indonesia. Animo perserta lumayan tinggi, tapi waktu terbatas. Sudahlah, yang penting terlalui juga, tapi ini enggak ada honor ya... Hehehe.


Ketiga. Kegiatan ini baru saja kulakukan bersama ketua kelompok kerja di unit kerjaku yang notabene adalah bestieku sendiri, yaitu kami diundang sebagai narasumber untuk kegiatan FGD di Perpustakaan DPR. Acaranya 15 Maret kemarin. Topik pembahasannya adalah pengelolaan buku langka. Sebagai ketua tim kerja pengolahan naskah kuno dan buku langka, kali ini aku juga yang harus menyampaikan pengetahuan. Duh, sebenarnya aku, sih, lebih paham soal naskah kuno dibandingkan buku langka. Tapi, karena sekarang pekerjaan pengolahan buku langka dikhususkan ke dalam tim kerjaku, mau enggak mau aku harus mempelajari juga persoalan buku langka ini. Jadilah kegiatan kemarin semacam debutku dalam dunia kebukulangkaan. Alhamdulillah, kegiatan berjalan lancar meski dilakukan saat sedang berpuasa. Insyaallah menjadi keberkahan buat kita semua karena menjalani hidup dengan menuntut ilmu.

Suvenir dari FGD di Perpustakaan DPR

Pada akhirnya, aku mau mengucapkan terima kasih kepada Semesta atas kepercayaan yang diberikan kepadaku lewat berbagai kegiatan yang telah kujalani kemarin. Ternyata, aku bisa, ya, aku mampu. Kadang, aku merasa malas melakukan ini itu, tapi belakangan rasa malasku teratasi oleh tanggung jawab dan kebutuhan. Kebanyakan kita pasti begitu, pengennya melakukan yang ringan-ringan aja, seru, based on hobby. Tapi, ketika dikasih tanggung jawab lebih seperti harus menyampaikan pengetahuan kepada banyak orang, ya, atas nama ilmu pengetahuan jugalah kita akhirnya bergerak untuk bisa berbagi dan bermanfaat. Semoga semua ini menjadi amal ibadah untukku. Aamiin.


Sekian dahulu, ya...  bye! 


0 comments: