Berterima Kasih

Dear, Semesta...

Aku mau ambil S3, ya... Aku sambil tetap menulis juga. Btw, deadline sayembara novelnya kurang dari 20 hari lagi. Aku ganti cerita. Kemarin tertunda juga sebulan lamanya karena aku mengikuti proyek membaca Pram. Waktuku kupakai buat meriset dan bikin tulisan. Itu pun belum selesai, banyak revisi. Tulisanku masih penelitian banget, sementara yang dibutuhkan esai, semacam sebuah refleksi.


Di akhir perjalanan ini, kok, tiba-tiba dapat insight untuk ambil S3 saja. Ternyata, SKP di kantor tetap dinilai, kok. Jadi, enggak stagnan amat. Begitu cek jadwal ujian masuk, deadlinenya 16 Juni ini, sementara beasiswa LPDP tahap kedua belum buka dan diperkirakan di bulan Juni juga. Setelah tanya2, tes TOEFL juga gak terlalu makan biaya dan ribet sepertinya. Jadi, kok, aku optimis banget untuk ikutan tes masuk S3 ini. Bukan karena sudah menguasai juga dan siap dengan berbagai ujiannya (termasuk tes beasiswa nanti), melainkan karena aku merasa ini seperti momentumnya. Jika pun gagal, aku masih punya kesempatan terakhir di tahun depan sebelum aku kena limit usia penerima beasiswa.


Bukan emosional, motivasi kuliah sih memang tinggi banget di aku. Tapi, kemarin itu ragu soal penilaian SKP mengingat jabatanku di kantor masih rendah sehingga tunjangan yang didapat juga kecil dibandingkan dengan teman-teman seangkatan. Sedih kalau memikirkan itu. Kebutuhan aku lebih banyak dari mereka, tapi mau kerja keras bagaimana pun, itu enggak akan melangkahi sistem yang berlaku soal ini. Aku kalah.


Mau mengeluh, tapi selalu teringat pada kata-kata Opa Baastian tokoh di novelku: kita tidak hidup di zaman perang. Sesusah apa pun keadaan manusia masa kini, tidak akan sebanding dengan susahnya hidup saat kondisi negara sedang perang. Hmm, benar banget. Pikiran itu tiba-tiba muncul begitu saja, sebuah pengingat dari alam yang jauuuh sekali, tapi nyata.


Aku sangat bersyukur pada keadaanku saat ini. Meskipun aku gak gembira-gembira amat, finansial buruk, tagihan menumpuk, toh aku masih bisa berkarya dan diberi banyaaak sekali kesempatan untuk merasakan dunia yang tampaknya selama ini ada dalam angan-anganku. Kesempatan terlibat dalam membaca Pram benar-benar menggugah hasratku untuk kembali aktif dalam dunia kesusastraan--salah satunya mungkin menginspirasiku untuk kuliah lagi. Aku suka sekali meneliti. Aku suka mencari dan menemukan sesuatu, apalagi jika itu sesuatu yang belum pernah terungkap oleh seorang pun. Aku suka menuliskan hasil penemuanku, pemikiranku, lalu kubagi kepada orang-orang. Aku senang sekali belajar. Aku suka sekali mempelajari ilmu pengetahuan, belajar sejarah, sastra, berdiskusi dengan orang-orang pintar, bertukar pikiran, melontarkan pertanyaan. Aku suka sekali berada dalam suasana seperti itu!


Aku berharap banyak pada diriku saat ini. Artinya, aku butuh diriku yang kuat, yang tidak mudah menyerah, yang tak gentar, yang progresif, yang tak kalah dengan keadaan--meskipun dunia mungkin tak adil, aku kena cacian, aku diteror, terjebak kapitalisme, gak punya banyak harta, menanggung hidup keluarga, mungkin juga trauma masa lalu termasuk dari para leluhurku, aku harus tetap berdiri tangguh, tegar, ditempa badai kehidupan, kuat, dan semangat, karena aku bisa! Karena ini adalah jalanku. Ini adalah jawaban dari segala doa-doaku, harapan-harapanku, dan kebergantunganku kepada penciptaku. Aku tak punya siapa-siapa lagi selain diriku sendiri yang selalu sadar sebagai manusia, sebagai hamba, sebagai anak manusia yang terlahir dengan segala ketetapan-Nya. Inilah takdirku. Aku yakin kalau aku mampu.


Maka, aku di sini saat ini, menuliskan rencanaku untuk mengambil S3 dengan proposal yang belum tahu apa dan segala bentuk ketidaksiapan lainnya. Tapi, aku mau maju. Aku mau melangkah dahulu. Telanjur sudah di sini. Aku mau ngapain lagi...


Kalau aku belajar, anak-anak juga akan belajar meskipun aku tidak bisa mengajari mereka dengan yang sesuai standar. Namun, aku yakin, mereka sebagai darah dagingku akan sangat terpengaruh dengan diriku, isi kepalaku, perbuatanku, sikap hidupku, dan lain-lain. Meskipun, pada akhirnya, mereka juga bisa dan harus punya pikiran mereka sendiri. Tapi, setidaknya, di saat mereka masih kecil-kecil begini, mereka bisa menyerap energi ibunya, bisa belajar secara instingtif dari hubungan anak-ibu (orang tua).


Bismillah, ya... Doakan aku.  


0 comments: