Masih ada orang yang membaca blog enggak, sih? Hahaha. Masih ada orang yang ngeblog enggak, sih? Bukan buat yang sifatnya profesional, melainkan hanya menulis cerita-cerita saja yang pada awal tahun 2000-an, sih, itu viral banget, masih ada enggak, ya? Lalu, nanti para pembaca blog, sesama blogger, saling kasih komentar di tulisan tersebut, saling berinteraksi, dan enggak jarang juga saling kopi darat. Seru banget kalau ingat masa itu. Aku sendiri sebagai penulis blog, enggak sampai ke tahap itu, sih, apalagi kemudian blognya dimonetisasi, masuk ke industri. Wah, pengen sebenarnya, tapi enggak rajin upgrade aku, jadi ketinggalan banget rasanya, dan sampai di hari ini, aku menulis blog sebatas hobi dan untuk terapi-lewat-menulisku saja. Gak apa-apa...
Aku senang bisa kembali ada persentuhan dengan blog ini. Rasanya seperti pulang dan menemukan diriku di dalamnya. Aku lalu mengobrol dengan diriku di blog ini, menceritakan kehidupan di luar sana, mendengarkan apa yang terjadi di dalam dengan diriku. Sungguh aktivitas yang memulihkan, apalagi ketika kureviu tulisan-tulisan yang pernah kubuat sejak dahulu, sepanjang 15 tahun ini, isinya terasa kontemplatif. Ternyata, blog ini tidak hanya media daring yang disediakan untuk manusia menulis, tetapi fungsinya bisa lebih, seperti teman, sahabat, rumah buat diri sendiri. Aku senang sekali bisa menulis lagi di blog ini. Aku kangen ternyata...
Begitulah faktanya, aku hidup dengan menulis. Bukan sekadar persoalan nafkah--kalau itu baru sesekali saja, melainkan keadaan hidupku yang katakanlah memang terlahir untuk menulis. Maksudku, kalau tidak menulis, aku tidak bisa bertahan. Menulis membuatku tetap waras. Menulis membuatku tetap menjejak di bumi. Menulis menaikkan derajatku. Menulis membantuku belajar. Soon, menulis dapat menghasilkan warisan untuk anak-anakku. Aku hanya perlu menulis terus dan selalu terkoneksi dengan semuanya lewat menulis. Insyaallah, cita-citaku yang terakhir itu akan terwujud.
Aku perlu menyadari dan wajib mensyukurinya bahwa mungkin Tuhan memang menganugerahkan menulis untuk diriku. Menulis dijadikannya sebagai fitrahku sekaligus anugerah dan keistimewaan buatku dari Tuhan jika aku memang sungguh-sungguh mengerjakannya. Banyak sekali keajaiban yang kurasakan lewat menulis, tulisan apa pun, tak dibatasi, baik itu ilmiah, sastra, populer, maupun sekadar curhatan begini. Aku selalu mendapatkan "sesuatu" yang berkaitan dengan menulis. Kalau aku lebih peka dan aware sama hal ini dan aku disiplin, enggak menutup kemungkinan aku benar-benar bisa sukses sebagai penulis dan mendapatkan legacy seperti yang kucita-citakan, baik dalam bentuk fisik maupun nonfisik.
Pada akhirnya, Semesta hanya ingin melihatku ikhlas menerima jalan hidupku sendiri. Bagaimana pun, semua ini sudah suratan takdir. Baik buruknya keadaanku, lika-likunya jalan hidup yang harus kutempuh, jatuh bangunnya aku selama ini merupakan bagian dari skenario-Nya. Aku harus percaya bahwa sehebat-hebatnya manusia membuat rencana dalam hidup, tetap segala sesuatu harus bergulir sesuai kehendak-Nya. Kita hanya membutuhkan rida-Nya. Ketika Dia sudah rida dengan kita, semua rencana kita akan berjalan dengan mengalir. Satu yang perlu diingat bahwa setiap doa manusia pasti dikabulkan oleh Yang Maha Kuasa, cuma kita enggak tahu kapannya. Kita hanya diminta yakin.
Oh iya, satu hal lagi. Ini kudapat dari belajar lewat Cak Nun bahwa sebelum kita minta Allah meridai kita, yang utama harus kita lakukan terlebih dahulu adalah rida pada setiap ketetapan Allah untuk kita. Seolah mudah, ya, tapi justru di sinilah sulitnya. Dalam persoalan meridai diri kita sendiri, kita rentan terjebak pada kehendak bebas kita sebagai manusia yang kemudian kita kait-kaitkan pada pikiran semacam, "Ini adalah kehendak Allah," padahal yang kita lakukan adalah korupsi (karena butuh uang buat bayar sekolah anak), misalnya, selingkuh (karena merasa mengalami jatuh cinta lagi dengan orang lain), dan lain-lain. Dan, kita merasa daya kita dalam berbuat semua itu merupakan daya yang dikehendaki oleh Tuhan, padahal semua itu perbuatan yang tidak benar dan seharusnya kita bisa berpikir dengan akal sehat, secara rasional. Kalau sudah begini, ketika pada akhirnya semua perbuatan salah kita berujung membuat kita jatuh dan tersungkur, lalu kita bertanya-tanya: "Mengapa Tuhan menghendaki semua ini? Mengapa Tuhan menghendaki kehancuran kita? Mengapa sejak awal Tuhan tak bertindak agar kita tidak melenceng jauh? Mengapa Tuhan bergeming?"
Sungguh paradoks kehidupan manusia itu. Di satu sisi, kita dituntut untuk berbuat sesuai dengan norma dan standar akhlak. "Begini, loh, yang benarnya," kira-kira begitu. Tapi, di sisi lain, kita butuh berbuat cepat dan seolah semua keadaan memaksa kita untuk dapat bertindak bahkan di luar segala yang dibenarkan itu atas nama bertahan hidup atau bahkan dengan alasan tadi: mungkin ini adalah kehendak Tuhan.
Sudah menjadi ketetapan Tuhan seseorang menafkahi anak istrinya dengan mencopet. Sudah menjadi ketetapan Tuhan seorang ibu menjadi pelacur untuk membesarkan anaknya. Sudah ketetapan Tuhan perang terjadi. Ya Allah... sungguh memilukan membicarakan semua itu. Padahal, kita sebagai manusia enggak pernah berniat menjadi orang jahat. Sejahat apa, sih, kita bisa berbuat? Membunuh anak sendiri? Bahkan dia punya alasan sedih di balik perbuatannya. (Jadi ingat kisah Musa dan Nabi Khidir). Gustiiii...
Aku sedih kalau terus memikirkan persoalan seperti itu. Aku enggak tahu apakah ada jalan keluarnya. Keimanan? Aku enggak tahu. Mereka mungkin bahkan lebih beriman dari kebanyakan orang. Mereka mengimani bahwa semua bentuk keadaan yang menimpa mereka adalah ketetapan Dia. Mereka rida.
Jadi pengen berdoa: Berilah hamba takdir yang baik, Ya Allah... Hm, sudah dahulu, ya. Aku jadi pusing.

0 comments:
Posting Komentar