S3, Usaha, Menulis?

Hari ini adalah hari terakhir pendaftaran Simak UI tahap pertama. Tadinya aku berencana mendaftar untuk tes studi doktoral filologi. Tapi, urung. Suatu pagi aku sempat membatin, kalau uang honor narsumku cair, aku mau pakai untuk biaya daftar Simak sebesar 1,5 juta rupiah. Eh, benar saja siang harinya cair. Tapi, aku ragu. Bukan karena tidak ingin, melainkan banyak masalah keuangan yang harus aku selesaikan. Logikaku menolak. Mudah-mudahan aku enggak salah, ya.

Kupikir, aku akan menundanya. Masih ada ujian masuk tahap kedua pada pertengahan tahun nanti. Mungkin aku akan ikut yang itu saja--semoga juga pas rezekinya. Setelah itu, aku harus membiayai tes TOEFL dll.-nya sebagai syarat beasiswanya. Semua itu tidak murah, loooh... Aku pun masih harus berjuang untuk mendapatkan beasiswa--satu-satunya beasiswa yang kuinginkan, tak mau yang lain--jika katakanlah ujian Simakku lulus. Everything is gambling.

Pertanyaanya pun kemudian: apakah aku benar-benar menginginkan studi S3? Apakah aku perlu kuliah lagi? Apakah aku membutuhkan semua itu?

Duh, pusiiing. Terus terang, kalau memikirkan itu aku pusing. Pada dasarnya, aku hanya ingin rehat sejenak dari rutinitas kerjaku. Aku ingin tinggal di Kuningan untuk beberapa lamanya menemani ibuku yang semakin tua. Kupikir, kalau aku kuliah lagi, aku bisa cuti belajar dan officially stay di Kuningan selama kurang lebih empat tahun masa studi doktoral. Tapi, aku harus dapat beasiswa LPDP (karena nominalnya kan lumayan) untuk meng-cover biaya hidup karena tunjangan kerja akan menurun drastis saat cuti belajar. Pertanyaannya, apakah aku seyakin itu bisa mendapatkan beasiswa LPDP? Fiuh.

Terus juga begini. Anggaplah aku berhasil hingga akhirnya berkuliahlah aku. Empat tahun kemudian aku masuk kerja lagi, lalu aku akan terkena ikatan dinas selama kurang lebih 9 tahun lamanya sebelum aku memutuskan untuk resign mungkin atau pensiun dini. Apakah aku sanggup menjalani 9 tahun kerja lagi? Belum lagi soal kedudukanku di kantor yang tidak berkembang selama kuliah. Padahal, di kantorku, kedudukan itu penting untuk mendongkrak pemasukan, sedangkan pendidikan tinggi tidak. Status doktorku enggak akan berpengaruh-pengaruh amat dalam menyejahterakan kehidupanku--itu kalau kita hitung-hitungan rupiahnya, ya. Status doktorku kemungkinan bakal jadi buah cibiran rekan kantor saja. Aku menang di gengsi dan titel saja, padahal penghasilan kecil karena posisi jabatan stagnan.

Hmm, ironis dan dilematis, ya. Kalau aku mau kejarnya duit, waktu, dan kebebasan, bisa enggak begini saja. Aku fokus mengembangkan usaha beberapa tahun ini hingga penghasilanku meningkat tajam. Aku berakselerasi 2 s.d 3 tahun untuk kemudian kuambil cuti di luar tanggungan negara selama beberapa tahun. Tujuannya adalah untuk tinggal di Kuningan menemani ibuku. Tidak dapat gaji dan tunjangan dari kantor pun tak mengapa sebab pemasukan tiap bulanku sudah banyak dari luar kantor. Kebetulan, setelah kupikir-pikir, aku tidak jadi resign. Aku mau ambil pensiun dini saja dan itu bisa saja terjadi pada 7 s.d 10 tahun dari sekarang. Terdengar make sense enggak, sih? Hm, kedengarannya mudah, ya... Tapi, kesulitannya itu adalah usaha apa yang mau aku akselerasi hanya dalam beberapa tahun dengan fokus yang terbagi sebagai pegawai dan pengusaha.

Ada hal lain juga selain mengembangkan usaha sebenarnya, yaitu mengembangkan aktivitas menulisku yang bisa kujadikan sumber pemasukan. Kalau yang satu ini, aku memang harus sudah fokuskan betul energiku untuk memproduksi tulisan, seperti novel atau apa pun yang ada nilainya. Aku mengincar royalti. Gooks!

Dari semua yang kutuangkan dalam tulisan ini yang masih berupa sketsa, aku berharap bisa mendorong diriku dan Semestaku untuk setidaknya mencondongkanku pada satu pilihan yang tepat dan terbaik. Aku masih di awang-awang, masih sebatas mengonsepsikan realitasku. Tapi, tentu itu mungkin saja bisa terjadi. Setidaknya, dari sekian sketsa hidup yang kubuat ini, ada satu yang benar-benar merupakan jalanku yang harus kutempuh di dunia ini. Pencapainnya tentu bukan sekadar cuan atau dunia dan seisinya ini, melainkan pula melibatkan manifestasi yang menyatukan diriku dengan alam raya ini. Di sinilah aku, inilah hakikat hidupku--aku perlu mencapai titik perasaan dan pemikiran itu.

Di bulan baik ini, mari kita langitkan doa setinggi-tingginya dengan tetap menundukkan jiwa raga kita serendah-rendahnya. Karena, bagaimana pun, manusia hanya bisa berencana, Allah yang memiliki kuasa. Kita hanya perlu bersinergi dengan frekuensi-Nya agar tidak tersesat dan senantiasa selamat.

Btw, ini malam ke-27 Ramadan. Aku berdoa semoga aku dan seluruh keluargaku di mana pun mereka berada masih dapat bertemu dan berkumpul di Ramadan berikutnya. Aamiiin YRA.


0 comments: