Seorang aku ini, saat ini, sedang berada di tahun-tahun yang krusial--penting dan esensial. Tahun ini akan menjadi titik awal dari perjalanan hidupku di tahun-tahun berikutnya hingga mungkin ke akhir masaku di dunia. Minimal, mentalku harus sudah mode SIAP SIAGA.
Aku juga sedang melakukan hal yang besar di tahun ini, khususnya di tiga bulan yang sedang kujalani sekarang. Aku sedang menulis cerita untuk novel. Ini bukan pekerjaan ringan, ini berat, tapi seharusnya bisa kulakukan karena inilah yang sesungguhnya aku inginkan. Aku butuh energi besar untuk melakukannya sekaligus juga mengalir sebagaimana mestinya. Jika memang untuk semua ini aku dilahirkan ke muka bumi, aku hanya perlu menyinergikan diriku dengan ketetapan Semesta untukku, kemudian aku memproyeksikannya dalam kehidupan sehari-hariku. Aku hanya perlu disiplin melakukannya, aku hanya perlu menuliskannya, mengerjakannya, aku hanya perlu bergerak, aku hanya perlu mengejawantahkannya. Kesadaranku, sepenuhnya kuisi dengan kesadaran Semesta ini. Biarkan Ia menjadi lewat diriku. Biarkan Aku mewujudkan diriku sendiri. Entitas ini hanyalah alat: tubuhku, namaku, pikiranku, gerakku, imajinasiku--hanya alat.
Ini bisa menjadi mudah sekali, tapi juga bisa sulit. Sepanjang aku telah mengenal semua konsep ini, yang kulakukan hanya mengupayakan diri untuk menjaga kesadaran ini. Tapi, aku sering jatuh, gagal. Kesadaran itu perlu dinyalakan terus karena sifatnya naik turun dan berlapis-lapis. Ada tirakat yang perlu dilakukan karena dunia bisa sangat beracun buat energi kita.
Lepaskanlah... karena jika memang harus terjadi, maka terjadilah. Jika sesuatu itu merupakan takdir kita, sembunyi ke mana pun, ia akan menemukan diri ini. Bersinergilah dengan kesejatian diri biar ringan hidup ini dijalani, mengalir bagai air kehidupan, terlalui setiap masalah dunia dengan tanpa terasa dan drama, teberkatilah diri ini oleh Semesta meskipun masalah tentunya akan selalu ada. Biarkan jiwa kita menenang dan mendapatkan rumahnya di titik tersebut.
Terima kasih karena telah menggiringku kembali ke jalan ini, jalan yang terasa menyakitkanku, yang dengan sengaja ingin kutinggalkan, tapi keadaan selalu memanggil, membuatku harus kembali dan menempuh semua kesakitan ini. Aku harus bertahan di sini selama mungkin, sejauh yang bisa kuupayakan, selama-lamanya hingga habis masa hidupku di dunia karena hidupku ternyata abadi, yang kuupayakan hari ini, setiap energinya akan lestari sampai ke tujuh turunan. Generasi di bawahku harus merasakan setiap getaran ini, menolong dan membimbing mereka dari setiap kesulitannya nanti sehingga aku memang harus di sini. Aku harus baik. Aku harus menjadi. Aku harus abadi.
Selamat berhari Sabtu, ya. Sudah dulu ketegangannya. Aku menulis ini sampai tarik napas berkali-kali, lalu tahan napas, lalu kuembuskan keras-keras. Hehehe. Apa pun realitasnya, yang terpenting adalah respons kita. Kalau kata peribahasa: anjing menggonggong, kafilah berlalu. Semangaaat!

0 comments:
Posting Komentar