Upgrade

Berminggu-minggu ini aku lagi belajar, cara bersinergi dengan Semesta. Jadi, sebenarnya, konsep ini memang sudah kupelajari sejak lama, lamaa sekali, sejak aku mulai mengenal kesadaran, mungkin sekitar tahun 2006. Tapi, saat itu memang aku masih piyik banget, enggak ada guru khusus pula, dan yaaa.. kehidupan bergulir sebagaimana mestinya, masalah datang silih berganti, dan kesadaran pun turun naik. Banyak episode hidup sudah kulalui hingga di titik ini aku hampir mendekati gerbang usia 40 tahunku, dengan berbagai persoalan yang mendadak terasa sangat berat kurasakan, di sinilah aku mulai teringat kembali pada kesadaran dan pentingnya bersinergi dengan Semesta. Aku lantas memulai kembali pelajaranku tentang semua ini, tidak dari 0 banget, tapi memang terasa seperti dari awal lagi semuanya, langkah dasarnya coba kulakukan, dan aku menemukan perantara bimbingan-Nya dari Youtube.


Flashback sedikit, beberapa bulan ke belakang aku mengalami kegelapan yang sejujurnya bikin syok. Karena apa? Karena aku seperti ditampar oleh diri sendiri yang bikin aku jadi malu sama diriku sendiri, dan aku jadi sangat menyalahkan diriku sendiri. Jatuhnya setelah itu apa? Trauma masa kecil bermunculan dalam ingatan, kesalahan orang tuaku, kesalahan orang-orang terdekatku, peristiwa sedih, marah, kecewa, pokoknya yang jelek-jelek, datang semua menghampiri, menghantui. Bukan cuma kena problem mental, aku pun mengalami problem finansial. Tiba-tiba aku merasa tidak dewasa, tidak mampu hidup, tidak mampu mengatasi masalahku, jahat sama diriku sendiri, jahat sama suami, anak-anak, keluarga, dan aku merasa tidak takut meninggalkan mereka.


Sampai di suatu siang, ibuku hampir mau menjemputku dari Kuningan untuk membawaku ke sana, ditenangkan, dan lain-lain. Tapi, kemudian, setelah agak reda, aku kembali bisa menguasai diriku sendiri dan kukatakan kepada keluarga, "Sudah gak apa-apa, aku sudah menenang. Aku sudah baik-baik saja. Doakan aku saja."


Singkat cerita, aku merasa butuh bantuan psikolog dan ahli semacam itu lainnya. Aku tidak mau dan tidak bisa mendiagnosis diriku sendiri, tapi aku merasa ada yang salah dengan diriku dan tidak tahu apa sehingga aku merasa harus ditolong oleh orang yang berkompetensi. Di Kuningan, aku coba dikenalkan kepada seorang ustaz oleh adikku, diberikan air yang sudah dibacakan doa, dan ia bilang katanya aku mengalami gangguan jiwa. Aku pun berencana saat lebaran nanti di Kuningan ia dirukiah oleh ustaz tersebut. Sebelumnya aku sudah coba mencari-cari psikolog yang bisa konsultasi online, tapi belum ketemu. Saat itu memasuki bulan Ramadan dan kami sekeluarga di rumah berpuasa dengan baik dan tertib, kemudian kerumitan jiwa dan ragaku satu per satu terurai. Aku kembali tenang dan sadar.


Mendekati lebaran, aku ketemua narasumber baru di channel Ngaji Roso yang memang sudah sejak lama kuikuti dan kusimak pengetahuan-pengetahuan yang disampaikan para narasumber channel tersebut. Aku ikuti, aku coba pelajari yang disampaikan, dan aku mendapatkan banyak pencerahan (lagi) dari situ. Saat lebaran, aku tidak jadi dirukiah, karena aku merasa aku bisa mengobati diriku sendiri. Aku mulai bisa merilis emosi-emosiku. Aku memantapkan diriku untuk aku mau minta dibimbing saja langsung oleh penciptaku, bukan yang lain, ustazlah, psikologlah, apa pun, siapa pun. Ya, pada dasarnya mereka hanya akan menjadi perantara karena sejatinya penciptakulah yang membimbingku langsung, mengajarku, dan memberi tahuku caranya kembali pada kesadaran sejati.


Alhamdulillah, Dia benar-benar menunjukkan cara-Nya kepadaku, setidaknya ini yang kurasakan beberapa hari ke belakang. Aku mengalami pengembalian kesadaran, lewat Teh Febby di channel Ngaji Roso. Konsep-konsep yang disampaikan sebenarnya sudah kuketahui selama ini, tapi memang entahlah, kenapa aku masih gagal dan mengalami looping meskipun tidak jarang juga aku mengalami keajaiban yang dahsyat. Ya, itu barangkali, karena aku tidak hidup dalam kesadaran penuh, masih melayang-layang Tapi, ya semakin ke sini aku semakin sadar juga bahwa aku masih berkomunikasi dengan sangat buruk kepada-Nya. Karena itu, aku masih harus banyak belajar memperbaiki semua ini.


Faktanya kemarin itu, aku masih suka mengeluh, marah, tidak bersyukur. Aku tidak tahu cara bersyukur yang baik dan benar. Setidaknya ada lima hal yang harus rutin aku lakukan sesuai arahan Teh Febby:

1. Sadar napas syukur

2. Release

3. Sending love

4. Quantum jump

5. Tabungan semesta


Sudah, itu aja dahulu. Aku mau latihan rutin itu, ya, menjadikannya sebagai kebiasaan baru dalam hidupku, bahkan menjadi identitas baru aku sehingga ketika tiba waktunya aku berusia 40 tahun nanti pada Oktober tahun ini, aku telah menjadi diriku dengan versi terbaru, paling upgrade, paling canggih dari spek seorang aku, dan tak tergantikan hingga aku tutup usia. Aaaamiiiin.


I love You, Semestaku. Keluargaku, pekerjaanku, para manusia, diriku sendiri, alam ini, I love you all, pokoknya. Semangat updgrade!


0 comments: